Sabtu, 17 Oktober 2015

Minggu, 11 Oktober 2015

komunitas gambir di dunia maya

komunitas petani gambir atau yang lebih dikenal dengan tukang kampo di facebook  .
jika ingin lebih tau secara mendalam tentang gambir .
bisa bertanya pada komunitas2 gambir di facebook .
login dan cari saja https://www.facebook.com/groups/1570772106537785/              atau yang lebih dikenal dengan nama KAMPO BAULANG . disana anda akan dapat bertanya tentang apa guna ,  harga dan cara pengolahan gambir tersebut ,

foto tanaman gambir

foto diatas merupakan tanaman gambir .
hasil alam yang sangat berharga .
wajin dilestarikan .

tugu gambir

ini adalah foto monumen atau tugu gambir yang terdapat di kota gambir muara paiti .
yang dibangun dimasa pemerintahan wali suhaimi , yang pada saat itu menjabat sebagai wali nagari .
dan terletak di jorong spi muara paiti . tepat nya di simpang trans atau lapangan sepak bola muara paiti ,




harga gambir

alhamdulillah minggu ini gambir berkisar antara 30 hingga 33 rp perkg nya .

foto gambir yang telah diolah

foto diatas merupakan hasil dari olahan gambir didaerah muaro paiti IX .
gambir merupakan hasil alam daerah kapur IX dan sekitar nya .
masyarakat sudah mengenal dan memanfaat kan gambir sudah sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam .
dan tentunya ini menjadi sumber mata pencaharian masyarakat kapur IX selain karet dan beberapa hasil alam lain nya .

gambir

?Gambir
Uncaria gambir - Köhler–s Medizinal-Pflanzen-275.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Gentianales
Famili: Rubiaceae
Genus: Uncaria
Spesies: U. gambir
Nama binomial
Uncaria gambir
(Hunt.) Roxb.[1]
Sinonim
  • Nauclea gambir Hunter[2]
  • Ourouparia gambir (Hunter) Baill.
  • Uncaria gambir var. latifolia S.Moore
  • Uruparia gambir (Hunter) Kuntze
Sumber: The Plant List[3]
Gambir adalah sejenis getah yang dikeringkan yang berasal dari ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan yang bernama sama (Uncaria gambir Roxb.). Di Indonesia gambir pada umumnya digunakan untuk menyirih. Kegunaan yang lebih penting adalah sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna. Gambir juga mengandung katekin (catechin), suatu bahan alami yang bersifat antioksidan. India mengimpor 68% gambir dari Indonesia, dan menggunakannya sebagai bahan campuran menyirih.
Gambir dihasilkan pula dari tumbuhan U. acida.

Daftar isi

Pemerian tumbuhan

Uncaria gambir berupa tumbuhan perdu setengah merambat/atau memanjat[4] dengan percabangan memanjang dan mendatar; batang menyegi empat --terutama ketika muda-- dan dipersenjatai dengan duri-duri yang melengkung seperti kait. Daun-daun tunggal, berhadapan, agak seperti kulit, oval hingga jorong lebar, (6-)9-12(-15) cm x (3.5-)5-7(-8) cm, pangkalnya membundar atau bentuk jantung, ujungnya meruncing, permukaan tidak berbulu (licin), dengan tangkai daun pendek. Bunganya tersusun majemuk dalam bongkol dengan diameter (3.5-)4-5 cm; mahkota berwarna merah muda atau hijau; kelopak bunga pendek, mahkota bunga berbentuk corong (seperti bunga kopi), benang sari lima. Buah berupa kapsula dengan dua ruang, panjang 14-18 mm, berbiji banyak, bersayap, dan bertangkai hingga 20 mm.[5][6][4]

Ekologi dan budidaya

Gambir sejak lama telah dibudidayakan di Semenanjung Malaya, Singapura,[7] dan Indonesia (Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Maluku)[5][7]. Asal usulnya diperkirakan dari Sumatera dan Kalimantan[7], di mana jenis-jenis liarnya didapati tumbuh di alam[5]. Rumphius melaporkan bahwa tumbuhan ini telah ditanam orang di Maluku pada pertengahan abad ke-18[5], namun sumber lain meyakini bahwa perdagangannya di kawasan Malaya telah berlangsung sejak abad ke-17[7]
Gambir liar kerap didapati di hutan sekunder. Ia tidak tumbuh di wilayah yang kering, namun juga tidak tahan dengan penggenangan. Tumbuh baik hingga ketinggian 200 m, gambir bisa hidup hingga elevasi 1.000 m dpl.[5] Gambir ditanam juga di dataran rendah.[4]
Iklim yang cocok untuk budidaya gambir adalah iklim tipe B2 menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Gambir berproduksi dengan baik pada jenis tanah podsolik merah kuning sampai merah kecoklatan. Ketinggian tempat yang sesuai antara 100-500 m dpl dengan curah hujan sekitar 3.000 – 3.353 mm pertahun (Anonim, 2000 dalam Noor Roufiq dkk, tt.).[8]
Pada masa lalu gambir dihasilkan dari Sumatera Barat, Riau, Bangka, Belitung dan Kalimantan Barat (Heyne, 1987), namun kini utamanya diproduksi oleh Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu dengan sekitar 90% produksi gambir Indonesia dihasilkan dari Provinsi Sumatera Barat dan Riau (Roswita, 1998). Negara tujuan utama ekspor gambir Indonesia adalah India dan Singapura.[8]

Produk

Gambir dari Pasar Anyar, Bogor
Gambir adalah ekstrak air panas dari daun dan ranting tanaman gambir yang diendapkan dan kemudian dicetak dan dikeringkan, yang berfungsi sebagai astringen.[4] Hampir 95% produksi dibuat menjadi produk ini, yang dinamakan betel bite atau plan masala. Bentuk cetakan biasanya silinder, menyerupai gula merah. Warnanya coklat kehitaman atau kekuningan. Gambir (dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai gambier) biasanya dikirim dalam kemasan 50kg. Bentuk lainnya adalah bubuk atau "biskuit". Nama lainnya adalah catechu, gutta gambir, catechu pallidum (pale catechu).

Kegunaan

Kegunaan utama adalah sebagai komponen menyirih, yang sudah dikenal masyarakat kepulauan Nusantara, dari Sumatera hingga Papua sejak paling tidak 2.500 tahun yang lalu. Diketahui, gambir merangsang keluarnya getah empedu sehingga membantu kelancaran proses pencernaan di perut dan usus. Fungsi lain adalah sebagai campuran obat, seperti sebagai luka bakar, obat sakit kepala, obat diare, obat disentri,[4] obat kumur-kumur, obat sariawan, serta obat sakit kulit (dibalurkan). Gambir digunakan pula sebagai bahan penyamak kulit dan bahan pewarna tekstil[5]. Sifat astringen] gambir ditemukan pula pada kayu Acacia catechu (Leguminosae), yang bisa ditemukan di India dan Semenanjung Malaya.[4]
Fungsi yang tengah dikembangkan juga adalah sebagai perekat kayu lapis atau papan partikel[9]. Produk ini masih harus bersaing dengan sumber perekat kayu lain, seperti kulit kayu Acacia mearnsii, kayu Schinopsis balansa, serta kulit polong Caesalpinia spinosa yang dihasilkan negara lain.

Kandungan

Kandungan yang utama dan juga dikandung oleh banyak anggota Uncaria lainnya adalah flavonoid (terutama gambiriin), katekin (sampai 51%), zat penyamak (22-50%), serta sejumlah alkaloid (seperti gambirtannin) dan turunan dihidro- dan okso-nya.[10]
Sediaan gambir termuat dalam Ekstra Farmakope Indonesia 1974 sebagai Catechu EFI (Gambir EFI), dengan kandungan isi d-katekin 7-33% dan asam katekutanat (sejenis tanin) 22-50%. Pemakaian utamanya sebagai astringensia.[11] Gambir juga mengandung katekin (catechin, cyanidol-3) digunakan sebagai anti-histamin yang bisa digunakan dengan anti-alergi. Bisa digunakan sebagai hepatitis dan luka pada hati, yang bisa digunakan sebagai obat di sana.[4]

Referensi

  1. ^ Roxburgh, W. 1832. Flora Indica, or, Descriptions of Indian plants 1: 517–519. Serampore: Printed for W. Thacker, 1832.
  2. ^ Hunter, W. 1808. Transactions of the Linnean Society of London 9: 218–223, tab. 22. London: R. Taylor & Co. 1808.
  3. ^ The Plant List: Uncaria gambir (Hunter) Roxb.
  4. ^ a b c d e f g Dharma, A.P. (1987). Indonesian Medicinal Plants. hal.79 – 80. Jakarta:Balai Pustaka. ISBN 979-407-032-7.
  5. ^ a b c d e f ICRAF AgroForestryTree Database: Uncaria gambir
  6. ^ Brown, O.P. 1878. The Complete Herbalist, section Gambir Plant (Uncaria Gambir)
  7. ^ a b c d Singapore Infopedia: Gambier.
  8. ^ a b Noor Roufiq, dkk. tt. Status Teknologi Budidaya dan Pengolahan Gambir. Balittro, Bogor.
  9. ^ Kompas.com: Papan Tiruan Temuan Unand Layak Dipakai. Berita Jumat, 7 Maret 2008 | 07:26 WIB
  10. ^ Hiller, K. & MF. Melzig. 2007. Die große Enzyklopaedie der Arzneipflanzen und Drogen. Elsevier, Heidelberg.
  11. ^ Sutrisno, R.B. 1974. Ihtisar Farmakognosi: 224. Jakarta: Pharmascience Pacific.

Bacaan lanjut

Pranala luar